Istilah - Istilah Meteorologi


Anomali
Penyimpangan nilai kuantitas suatu elemen meteorologi dalam suatu wilayah dari nilai rata-rata (normal) untuk periode waktu yang sama.
Climate Change (Perubahan Iklim)
Perubahan signifikan jangka panjang dari pola cuaca rata-rata di suatu wilayah atau secara global dalam periode waktu yang signifikan.

Citra Radar

Citra radar cuaca menggambarkan potensi intensitas curah hujan yang dideteksi oleh radar cuaca. Pengukuran intensitas curah hujan (presipitasi) oleh radar cuaca berdasarkan seberapa besar pancaran energi radar yang dipantulkan kembali oleh butiran-butiran air di dalam awan dan digambarkan dengan produk Reflectivity yang memiliki besaran satuan dBZ (decibel). Makin besar energi pantul yang diterima radar maka makin besar juga nilai dBZ, dan semakin besar nilai dBZ reflectivity menunjukkan intensitas hujan yang terjadi semakin besar.

Jangkauan terjauh/maksimum produk Reflectivity dari radar BMKG adalah sekitar 240 km dari lokasi radar.

Skala dBZ pada legenda berkisar 5 - 75 yang dinyatakan dengan gradasi warna biru langit hingga ungu muda. Jika gradasi warna semakin ke arah ungu maka semakin tinggi intensitas hujannya. Kisaran intensitas hujan berdasarkan skala warna dBZ dan mm/jam disajikan seperti dalam tabel berikut:

Kategori Intensitas HujanNilai dBZmm/jam
Hujan ringan (light rain)25 s/d 351 s/d 5
Hujan sedang (moderate rain)35 s/d 455 s/d 10
Hujan lebat (heavy rain)45 s/d 5510 s/d 20
Hujan sangat lebat (very heavy rain)>55>20

Cold Surge
Aliran udara dingin dari daratan Asia yang menjalar memasuki wilayah Indonesia bagian barat, cold surge biasa terjadi pada saat di Asia memasuki musim dingin.
Cuaca
Keadaan/fenomena fisik dari atmosfer (yang berhubungan dengan Suhu, Tekanan Udara, Angin, Awan, Kelembaban udara, Radiasi, Jarak Pandang, dsb) di suatu tempat dan pada waktu tertentu.
Cuaca Ekstrim
Keadaan atau fenomena fisik atmosfer di suatu tempat, pada waktu tertentu dan berskala jangka pendek dan bersifat ekstrim. BMKG sendiri mengkategorikan cuaca termasuk ekstrim apabila :
Suhu udara permukaan ≥ 35⁰ C
Kecepatan angin ≥ 25 knots
Curah hujan dalam satu hari ≥ 50 mm
Cumulonimbus
Jenis awan yang terlihat gelap (warna hitam pekat dan bergumpal berbentuk bunga kol). Akibat dari jenis awan ini menimbulkan hujan lebat, angin kencang dan petir/guntur berdurasi singkat.
Dasarian
Rentang waktu 10 (sepuluh) hari. Dasarian I adalah tanggal 1 sampai 10, Dasarian II adalah tanggal 11 sampai 20, Dasarian III adalah tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.

Dipole Mode adalah fenomena interaksi antara atmosfer dan lautan di wilayah Samudera Hindia yang dihitung dari perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu permukaan laut (SPL) di bagian barat (50°E - 70°E dan 10°S - 10°N) / (wilayah timur Afrika) dengan bagian timur (90°E - 110°E dan 10°S - equator) / (wilayah barat Sumatera).

Divergensi
Angin dalam bentuk beraian horizontal, akan terlihat jelas pada lapisan 200 mb.
Downburst
Sentakan udara dingin ke permukaan bumi dari kejadian thunderstorm atau shower. Berkaitan dengan microburst : meliputi area dengan diameter kurang dari 4 km dalam durasi waktu singkat kurang dari 5 menit.
Eddy
Pola pusaran angin tertutup dengan durasi yang tidak terlalu lama (biasanya harian) yang menyebabkan terbentuknya pertumbuhan awan-awan konvektif (BMKG).

El Nino-Southern Oscillation (ENSO) didefinisikan sebagai anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.

Istilah El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang artinya “anak laki-laki”. El Nino awalnya digunakan untuk menandai kondisi arus laut hangat tahunan yang mengalir ke arah selatan di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador saat menjelang natal. Kondisi yang muncul berabad-abad lalu ini dinamai oleh para nelayan Peru sebagai El Nino de Navidad yang disamakan dengan nama Kristus yang baru lahir. Menghangatnya perairan di wilayah Amerika Selatan ini ternyata berkaitan dengan anomali pemanasan lautan yang lebih luas di Samudera Pasifik bagian timur, bahkan dapat mencapai garis batas penanggalan internasional di Pasifik tengah.

Iklim di Samudera Pasifik dapat bervariasi dalam tiga kondisi (fase):

Fase Netral: angin pasat berhembus dari timur ke arah barat melintasi Samudra Pasifik menghasilkan arus laut yang juga mengarah ke barat dan disebut dengan Sirkulasi Walker. Selama fase Netral, suhu muka laut di barat Pasifik akan selalu lebih hangat dari bagian timur Pasifik.

Fase El Nino: angin pasat yang biasa berhembus dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah. Pelemahan ini dikaitkan dengan meluasnya suhu muka laut yang hangat di timur dan tengah Pasifik. Air hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Hal ini berarti Indonesia mengalami peningkatan risiko kekeringan.

Fase La Nina: hembusan angin pasat dari Pasifik timur ke arah barat sepanjang ekuator menjadi lebih kuat dari biasanya. Menguatnya angin pasat yang mendorong massa air laut ke arah barat, maka di Pasifik timur suhu muka laut menjadi lebih dingin. Bagi Indonesia, hal ini berarti risiko banjir yang lebih tinggi, suhu udara yang lebih rendah di siang hari, dan lebih banyak badai tropis.

Dalam istilah ilmu iklim saat ini, El Nino menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik ekuator bagian timur dan tengah yang lebih panas dari normalnya, sementara anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia yang biasanya hangat (warm pool) menjadi lebih dingin dari normalnya. Pada saat terjadi El Nino, daerah pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah sehingga menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Gelombang
Pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan, menyebabkan riak-riak, alun/bukit, dan berubah menjadi apa yang kita sebut sebagai gelombang.
Gusty
Fluktuasi kecepatan angin yang berubah signifikan secara tiba-tiba dan dalam durasi singkat, biasanya dalam beberapa detik. Berasal dari awan CB, puncak angin mencapai sekurang-kurangnya 16 knots dan variasi antara puncak dan kecepatan terendah adalah sekurang-kurangnya 10 knots.
Bentuk presipitasi yang terdiri dari butiran es yang tidak teratur, berdiameter antara 5 - 150 mm. Hail terbentuk dalam awan badai ketika butiran air super dingin membeku saat bertumbukan dengan inti kondensasi. Biasanya fenomena ini terjadi pada saat udara disekitarnya panas dan berasal dari awan gelap dan bergumpal (awan CB).
Iklim
Aspek dari cuaca di suatu tempat dan pada waktu tertentu dalam jangka panjang, contoh : Prakiraan Hujan Bulanan, Prakiraan Musim Hujan dan Kemarau
ITCZ
Sabuk tekanan rendah, area dimana trade wind dari belahan bumi utara dan selatan bertemu, biasanya berada antara 10⁰ LU - 10⁰ LS (dekat ekuator). Pada daerah-daerah yang dilintasi ITCZ pada umumnya berpotensi terjadinya pertumbuhan awan-awan hujan lebat.
Konveksi / konvektif
Proses pengangkatan udara keatas akibat adanya pemanasan permukaan bumi yang membawa uap air sehingga membantu terbentuknya awan-awan konvektif (BMKG).

Kovergensi
Pola pertemuan dan perlambatan angin yang menyebabkan terjadinya pengumpulan massa udara disuatu daerah yang dilaluinya sehingga membantu pembentukan awan (BMKG).

Millimeter hujan
Takaran/satuan yang digunakan untuk mengetahui intensitas curah hujan yang jatuh ke tanah per satuan luas per satuan waktu. 1 mm hujan menunjukan bahwa air hujan yang jatuh akan setinggi 1 mm pada area 1 m2 dalam interval waktu tertentu, apabila air hujan tersebut tidak menguap, mengalir atau meresap.

MJO (Madden Julian Oscillation)
Fluktuasi musimam atau gelombang atmosfer yang terjadi di kawasan tropik, MJO berkaitan dengan variabel cuaca penting dipermukaan maupun lautan pada lapisan atas dan bawah. Seperti variable arah dan kecepatan angin, perawanan, curah hujan, suhu muka laut, penguapan di permukaan laut. MJO mempunyai siklus sekitar 30 - 60 hari.
Monsoon
Suatu pola sirkulasi angin yang berhembus secara periodik pada suatu periode (minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Di Indonesia dikenal dengan 2 istilah monsun yaitu monsun Asia dan Monsun Asutralia. Monsun Asia berkiatan dengan musim hujan di Indonesai sedangkan monsun Asutralia berkaitan dengan musin kemarau di Indonesia. Istilah monsun Asia dikenal dengan sebutan angin baratan sedangkan monsun Australia dikenal dengan sebutan angin timuran.
Musim hujan
Musim hujan ditandai dengan curah hujan yang terjadi dalam satu dasarian sebesar 50 mm atau lebih yang diikuti oleh dasarian berikutnya,atau dalam satu bulan terjadi lebih dari 150 mm.
Musim Kemarau
Musim yang ditandai dengan curah hujan yang terjadi dalam satu dasarian kurang dari 50 mm dan dalam satu bulan kurang dari 150 mm.
Musim Pancaroba
Musim dengan pola hujan lebih sering turun pada siang hari atau malam hari dan dapat terjadi selama 2 - 5 hari berturut-turut, intensitas hujan ringan sampai sedang, juga disertai dengan angin kencang dan petir, angin bertiup dari arah selatan sampai tenggara.

Normal curah hujan bulanan
Nilai rata-rata jumlah curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 30 tahun.

Pasang naik dan Pasang surut
Merupakan bentuk gerakan air laut yang terjadi karena pengaruh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi. Pasang Purnama adalah peristiwa terjadinya pasang naik dan pasang surut tertinggi.
Rata-rata curah hujan bulanan
Nilai rata-rata jumlah curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

Rob
Banjir yang diakibatkan oleh air laut yang masuk ke darat akibat air pasang berkaitan dengan gaya tarik bumi, bulan dan matahari.
Shearline atau belokan angin
Suatu pola angin sejajar dalam sebuah lintasan kemudian terjadi perubahan mendadak terhadap arah horisontalnya (BMKG).
Shower
Hujan tiba-tiba yang turun dari awan gelap pekat. Biasanya daerah di sekitarnya terlihat cerah dan umumnya waktunya tidak lama hanya dalam hitungan menit.
Sifat Hujan
Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan nilai rata-rata / normal dari curah hujan pada bulan tersebut di suatu tempat.

Merupakan badai dengan kekuatan yang besar. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km. Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26.5 °C. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.

Dampak Siklon Tropis
Karena ukurannya yang sangat besar serta angin kencang dan gumpalan awan yang dimilikinya, siklon tropis menimbulkan dampak yang sangat besar pada tempat-tempat yang dilaluinya. Dampak ini bisa berupa angin kencang, hujan deras berjam-jam, bahkan berhari-hari yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir, gelombang tinggi, dan gelombang badai (storm surge).

Siklon tropis di laut dapat menyebabkan gelombang tinggi, hujan deras dan angin kencang, mengganggu pelayaran internasional dan berpotensi untuk menenggalamkan kapal. Siklon tropis dapat memutar air dan menimbulkan gelombang laut yang tinggi. Di daratan, angin kencang dapat merusak atau menghancurkan kendaraan, bangunan, jembatan dan benda-benda lain, mengubahnya menjadi puing-puing beterbangan yang mematikan. Gelombang badai (storm surge) atau peningkatan tinggi permukaan laut akibat siklon tropis merupakan dampak yang paling buruk yang mencapai daratan.

Menurut sejarah, 90% siklon tropis mematikan. Perputaran siklon tropis yang mencapai daratan dan vertical wind shear di sekelilingnya akan menghasilkan tornado. Tornado dapat juga dihasilkan sebagai akibat dari vortisitas di dinding mata siklon yang tetap bertahan hingga mencapai daratan.

Dampak Langsung

Yang dimaksud sebagai dampak langsung siklon tropis adalah dampak yang ditimbulkan oleh siklon tropis terdapat daerah-daerah yang dilaluinya. Ini dapat berupa gelombang tinggi, gelombang badai atau storm surge yang berupa naiknya tinggi muka laut seperti air pasang tinggi yang datang tiba-tiba, hujan deras serta angin kencang.

Contoh ketika suatu wilayah di Indonesia mengalami dampak langsung keberadaan siklon tropis adalah ketika terjadi peristiwa langka yaitu tumbuh siklon tropis Kirrily di atas Kepulauan Kai, Laut Banda, pada 27 April 2009. Kirrily menyebabkan hujan lebat dan storm surge di wilayah ini. Tercatat puluhan rumah rusak dan puluhan lainnya terendam, jalan raya rusak, dan gelombang tinggi terjadi dari 26 hingga 29 April. Curah hujan tercatat per 24 jam yang tercatat adalah di Tual adalah sebanyak 20mm, 92mm dan 193mm, masing-masing untuk tanggal 27, 28 dan 29 April 2009.


Dampak Tidak Langsung

Indonesia bukan merupakan daerah lintasan siklon tropis, namun demikian keberadaan siklon tropis di sekitar Indonesia, terutama yang terbentuk di sekitar Pasifik Barat Laut, Samudra Hindia Tenggara dan sekitar Australia akan mempengaruhi pembentukan pola cuaca di Indonesia. Perubahan pola cuaca oleh adanya siklon tropis inilah yang kemudian menjadikan siklon tropis memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia.

Dampak tidak langsung atas adanya siklon tropis dapat berupa berbagai hal, diantaranya yaitu:

1    Daerah pumpunan angin.

Siklon tropis yang terbentuk di sekitar perairan sebelah utara maupun sebelah barat Australia seringkali mengakibatkan terbentuknya daerah pumpunan angin di sekitar Jawa atau Laut Jawa, NTB, NTT, Laut Banda, Laut Timor, hingga Laut Arafuru. Pumpunan angin inilah yang mengakibatkan terbentuknya lebih banyak awan-awan konvektif penyeab hujan lebat di daerah tersebut.

Dilihat dari citra satelit, daerah pumpunan angin terlihat sebagai daerah memanjang yang penuh dengan awan tebal yang terhubung dengan perawanan siklon tropis, sehingga terlihat seolah-olah siklon tropis tersebut mempunyai ekor. Itulah sebabnya daerah pumpunan angin ini seringkali disebut sebagai ekor siklon tropis.

Contoh kasus ketika Indonesia terkena ekor siklon tropis adalah pada saat terjadi siklon tropis George (2 Maret 2007) yang mengakibatkan adanya daerah pumpunan angin yang memanjang dari Jawa TImur hingga ke Nusa Tenggara Timur. Curah hujan yang tercatat pada saat itu di Ruteng, Waingapu, Rote, Kupang berturut-turut adalah sebanyak 172 mm, 52 mm, 78 mm, 73 mm.


Daerah pumpunan angin yang terbentuk oleh Siklon George (2007), membentuk ekor siklon yang menambah intensitas hujan di Jawa Timur hingga NTT.

2    Daerah belokan angin

Adanya siklon tropis di perairan Samudra Hindia Tenggara kadangkala menyebabkan terbentuknya daerah belokan angin di sekitar Sumatra bagian Selatan atau Jawa bagian Barat. Daerah belokan angin ini juga dapat mengakibatkan terbentuknya lebih banyak awan-awan konvektif penyebab hujan lebat di daerah tersebut.

3    Daerah defisit kelembaban
Bersamaan dengan adanya siklon tropis di perairan sebelah utara Sulawesi atau di Laut Cina Selatan seringkali teramati bersamaan dengan berkurangnya curah hujan di wilayah Sulawesi bagian utara atau Kalimantan. Meskipun belum ada penelitian lebih lanjut, namun ditengarai bahwa fenomena ini disebabkan karena siklon tropis tersebut menyerap persediaan udara lembab yang terdapat dalam radius tertentu di sekitarnya, termasuk yang terkandung di atmosfer di atas Kalimantan dan Sulawesi bagian utara sehingga di wilayah ini justru udaranya kering dan kondisi cuacanya cenderung cerah tak berawan.

Skala Beaufort
Skala yang digunakan dengan memperhatikan kondisi alam sekitarnya seperti melihat gerakan pepohonan
Squall / Angin ribut
Sentakan angin kuat tiba-tiba dengan kecepatan meningkat sekurang-kurangnya 16 knots dan diteruskan sampai 22 knot atau lebih dalam waktu paling tidak 1 menit. Intensitas dan durasinya lebih lama daripada gusty.

Standar normal curah hujan bulanan
Nilai rata-rata jumlah curah hujan masing-masing bulan selama 30 tahun dimulai dari 1 Januari 1901 s/d 31 Desember 1930, 1 Januari 1931 s/d 31 Desember 1960, 1 Januari 1961 s/d 31 Desember 1990, dan seterusnya.
Tornado
Kolom udara yang berputar kencang yang membentuk hubungan antara awan cumulonimbus dengan permukaan tanah. Tidak pernah terjadi di Indonesia, namun tornado skala kecil sama dengan puting beliung, tornado lebih sering terjadi di Amerika Serikat.
Turbulensi
Gerakan udara yang tidak teratur dan seketika yang dihasilakn dari sejumlah eddy kecil yang menjalar di udara. Hal ini disebabkan fluktuasi aliran angin yang acak, konvektif, zona font, variasi temperatur dan tekanan.
Wind Shear
Perubahan rata-rata arah dan kecepatan angin terhadap jarak. Wind shear vertikal perubahan rata-rata angin terhadap altitude. Wind shear horizontal perubahan rata-rata angin pada bidang datar. Wind Shear itu sendiri merupakan fenomena meteorologi skala mikro yang terjadi pada jarak yang sangat kecil namun dapat diasosiasikan dengan skala sinoptik seperti squall line dan front dingin. rata-rata angin terhadap altitude. Wind shear horizontal rata-rata perubahan angin pada bidang datar: wind shear itu sendiri merupakan fenomena meteorologi skala mikro yang terjadi pada jarak yang sangat kecil namun dapat diasosiasikan dengan skala sinoptik seperti squall line dan front dingin.