Dipole Mode adalah fenomena interaksi antara atmosfer dan lautan di wilayah Samudera Hindia yang dihitung dari perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu permukaan laut (SPL) di bagian barat (50°E - 70°E dan 10°S - 10°N) / (wilayah timur Afrika) dengan bagian timur (90°E - 110°E dan 10°S - equator) / (wilayah barat Sumatera). Hasil perhitungan perbedaan nilai (selisih) ini dikenal sebagai Dipole Mode Index (DMI). Fenomena Dipole Mode merupakan fenomena yang mirip dengan ENSO tetapi terjadi di Samudera Hindia.
DMI dibagi menjadi dua fase yakni DMI (+) dan DMI (-)
Jika nilai DMI (+) berarti Suhu Permukaan Laut (SPL/SST) di wilayah barat Sumatera lebih dingin, sedangkan di wilayah timur Afrika lebih hangat, sehingga tekanan udara permukaan di wilayah barat Sumatera lebih tinggi dibandingkan di wilayah timur Afrika. Akibatnya massa udara mengalir dari wilayah barat Sumatera ke wilayah timur Afrika yang mengakibatkan pembentukkan awan-awan konvektif di wilayah timur Afrika dan menghasilkan penambahan curah hujan, sedangkan curah hujan di wilayah barat Sumatera cenderung berkurang.
Begitupun sebaliknya, jika nilai DMI (-) berarti Suhu Permukaan Laut (SPL/SST) di wilayah timur Afrika lebih dingin, sedangkan di wilayah barat Sumatera lebih hangat, sehingga tekanan udara permukaan di wilayah timur Afrika lebih tinggi dibandingkan di wilayah barat Sumatera. Akibatnya massa udara mengalir dari wilayah timur Afrika ke wilayah barat Sumatera yang mengakibatkan pembentukkan awan-awan konvektif di wilayah barat Sumatera dan menghasilkan penambahan curah hujan, sedangkan curah hujan di wilayah timur Afrika cenderung berkurang.
Ilustrasi proses/mekanisme fenomena Dipole Mode seperti gambar di bawah ini :
Tahapan Siklus Dipole Mode :
- Muncul anomali SPL/SST negatif di sekitar selat Lombok hingga selatan Jawa pada bulan Mei - Juni bersamaan terjadi anomali angin tenggara yang lemah di sekitar Jawa dan Sumatera.
- Anomali terus menguat pada Juli - Agustus dan meluas sampai ke ekuator di sepanjang pantai selatan Jawa hingga pantai barat Sumatera. Kondisi diatas dibarengi munculnya anomali positif SPL/SST di Samudera Hindia bagian barat. Adanya dua kutub di Samudera Hindia ekuator ini semakin memperkuat anomali angin tenggara di sepanjang ekuator dan pantai barat Sumatera.
- Siklus mencapai puncaknya pada bulan Oktober dan selanjutnya menghilang dengan cepat pada bulan November - Desember.
